RASULULLAH SAW adalah orang yang sangat indah akhlaknya. Rasulullah SAW adalah orang yang sangat tawadhu’ kepada siapa pun. Salah satu bentuk ketawadhu’an Rasulullah SAW adalah ia tidak suka dipuji dan disanjung secara berlebihan.
Nabi SAW bersabda, “Janganlah kamu sanjung aku (secara berlebihan) sebagaimana kaum Nasrani menyanjung Isa bin Maryam secara berlebihan. Aku hanyalah seorang hamba Allah, maka panggillah aku dengan sebutan hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Daud).
Dari Anas bin Malik ra ia berkata, “Ada beberapa memanggil Nabi SAW sambil berkata, “Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik dan anak orang terbaik di antara kami, wahai junjungan kami anak dari junjungan kami.”
Mendengar itu, Rasulullah SAW langsung menyanggah dengan bersabda, “Wahai sekalian manusia, katakanlah sewajarnya saja! Jangan sampai kamu digelincirkan oleh setan. Aku adalah Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak sudi kamu angkat di atas kedudukan yang dianugerahkan Allah SWT kepadaku.” (HR. An Nasai).
Suatu hari ada seorang wanita datang menemui Rasulullah SAW sambil berkata, “Wahai Rasulullah, aku membutuhkan sesuatu dari Anda.” Lalu Rasulullah SAW berkata kepada wanita itu, “Pilihlah di jalan mana yang kamu kehendaki di kota Madinah ini, tunggulah aku disana, niscaya aku akan menemuimu (melayani keperluanmu).” (HR. Abu Daud).
Begitulah sifat tawadhu’ Rasulullah SAW. Ia tidak senang dipanggil dengan sebutan yang berlebihan. Ia hadir dengan segenap jiwa terpuji lagi mulia. Menjulang tinggi ke tempat yang terpuji dengannya. Bila dikaji lebih dalam lagi, akhlak Nabi SAW jauh lebih harum dari minyak kasturi.
Nabi SAW adalah pemimpin setiap orang yang tawadhu’ baik dalam ilmu ataupun amal. Nabi SAW bersabda, “Andaikata aku diundang makan paha atau kaki binatang, niscaya aku kabulkan undangannya. Andaikata aku dihadiahkan kaki atau paha binatang, tentu akan aku terima hadiah itu.” (HR. Bukhari).

0 comments