Friday, 11 March 2016

Dr. Zakir Naik ditantang Debat oleh Pendeta Indonesia ?


Esra Alfred Soru mendadak terkenal di media sosial. Pasalnya, di saat banyak gereja Eropa tidak berani berdebat dengan Dr Zakir Naik hingga Vatikan pun menolak, pendeta asal Kupang NTT itu justru menantang Dr Zakir Naik untuk debat terbuka
Mendengar bahwa Dr Zakir Naik akan ke Indonesia pada bulan April, Esra mengatakan itu adalah kesempatan emas baginya untuk kembali menantang Dr Zakir Naik berdebat
Ditempat terpisah, Insan LS Mokoginta, kristolog yang juga mantan penginjil mengomentari tantangan Pendeta Esra Alfred Soru kepada Zakir Naik,
Menurut Insan, sebaiknya sebelum memutuskan menantang Zakir Naik, Pendeta Esra harus mengukur kemampuan diri dulu.
“Pendeta di NTT? sama saya saja keok apalagi lawan Zakir Naik. Hadapi saya saja dulu. Terima saja tantangan itu. Biar dunia dan non muslim tahu bagaimana Kristen itu,”
Insan menilai, Pendeta Esra bukan lawan selevel untuk Zakir Naik. Insan bahkan menduga tantangannya itu hanyalah usaha mencari poluparitas.
Jikapun bisa terselenggara, maka menurutnya, Pendeta Esra akan kalah telak dan menjadi bulan bulanan di Indonesia bahkan dunia.
“Pas berhadapan dengan dia pasti ditekuk habis-habisan. Jadi mereka akan jadi bulan-bulanan di Indonesia bahkan dunia. Insya Allah banyak orang Kristen masuk Islam,” jelas Insan
Read more

Thursday, 25 February 2016

Siapa Yang Akan Menang Jika Terjadi Perang di Suriah ? Ini Hadist Rasulullah SAW

Namun siapa yang menyangka, bahwa ternyata perang di Suriah sudah diprediksi Nabi Muhammad SAW. Rasul bahkan juga telah mengabarkan siapa nantinya yang akan menang.


Dalam literatur Islam, negeri Syria atau Suriah mendapat julukan Negeri Syam.  Negeri ini memang sudah mendapat keberkahan sejak awal. Bahkan, negeri ini secara khusus disebut Allah dalam Alquran bahkan memberkatinya.

“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri (Syam) yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu”. [QS: al-Anbiyaa’/21:81].

Allah juga menyebutkannya dalam Quran Surah Sabaa:18 yang artinya;

“Dan kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri (Syam) yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman”. [QS: Sabaa’/34:18].

Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan tentang keberkahan Syam kepada para sahabat. Saat itu Nabi membacakan QS. Al-Mu’minun: 50 yang artinya:

“Dan kami tempatkan mereka di dataran tinggi yang mendatar dan yang menyimpan air” (QS. Al-Mu’minun: 50).

Rasulullah SAW kemudian bertanya kepada sahabat “Apakah kalian mengetahui dimana tempat itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau melanjutkan, “Tempat itu di negeri Syam, bumi yang dinamakan Ghuthah, di sebuah kota yang disebut Damaskus. Ia adalah kota yang terbaik di negeri Syam.” (HR. Tamam Rozi no. 915).



Dalam hadistnya Nabi Muhammad mengatakan bahwa Ghauthah nantinya akan menjadi tempat perkemahan Muslim saat terjadi perang. Ini jelas menginformasikan kepada kita bahwa Nabi Muhammad SAW mengetahui Rahasia Allah akan terjadinya perang di negeri yang dicintainya ini.

Rasulullah bersabda, “Perkemahan kaum Muslimin pada saat terjadinya malhamah (perang besar) adalah Gauthah, disamping Damaskus. (Riwayat Ibnu Majah, Al Hakim dan Ibnu Asakir).

Ternyata benar, saat sudah terjadi perang seperti saat ini, Ghuthah memang menjadi tempat kaum muslim untuk menyusun kekuatan. Rakyat Muslim di distrik ini sangat mendudung mujahidin, meski puluhan ribu di antara mereka sudah dibantai rezim Suriah.

Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi di dalam al-Mughni, para sahabat menyebutkan tiga militer terkuat; Syam (Suriah), Yaman, dan Irak. Kepada Nabi, para sahabat bertanya, “Manakah yang paling kuat?”

“Rupanya, Nabi yang mulia memilih Syam (Suriah). Syam menjadi tanah yang terpilih, orang yang berada di sana pun terpilih. “Sesungguhnya Allah Ta’ala mempercayakan Syam kepadaku dan warganya.”

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: ‘Alaikum bi Syam, pilihlah negeri Syam itu artinya dari 3 tempat ini. Dengan demikian, Syam menjadi negeri yang paling istimewa dari ketiganya. Pada akhir zaman, mujahid muslimin di negeri Syam adalah mujahid terkuat yang akan dimiliki.

Akan tetapi, yang menjadi persoalan, di antara pihak yang bertikai, siapakah yang paling nyata memperjuangkan Islam dan kaum Muslimin? Semoga Allah selalu menjaga mujahid-mujahid Negeri Syam dan memberikan kemenangan kepada mereka yang benar-benar berjuang dan bertahan demi Islam.
Read more

Tuesday, 16 February 2016

Bersalaman Seusai Sholat Adalah Bid'ah ? Simak Penjelasan Berikut Ini


Sudah berlaku di masyarakat kita, setelah selesai sholat berjama’ah, satu sama lain saling bersalaman. Apakah itu ada dasar hukumnya, lantas apa faedahnya? Bersalaman antar sesama muslim memang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hal itu dimaksudkan agar persaudaraan semakin kuat, persatuan semakin kokoh. Salah satu bentuknya adalah anjuran untuk bersalaman ketika bertemu. Bahkan jika ada saudara muslim yang datang dari bepergian jauh, misalnya habis melaksanakan ibadah haji, maka disunnahkan juga saling berangkulan (mu’anaqah).

Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib, Rasulullah SAW bersabda bahwa dua orang yang bertemu dan bersalaman akan diampuni dosa mereka sebelum berpisah. (HR Ibnu Majah)

Berdasarkan hadits inilah ulama Syafi’iyyah mengatakan bahwa bersalaman setelah sholat hukumnya sunnah. Kalaupun perbuatan itu dikatakan bid’ah (hal baru) karena tidak ada penjelasan mengenai keutamaan bersalaman usai sholat, maka bid’ah yang dimaksud di sini adalah bid’ah mubahah, yang diperbolehkan. (Soal bid’ah, lihat penjelasannya dalam fasal tentang bid’ah).

Imam Nawawi menyatakan, bersalaman sangat baik dilakukan. Sempat ditanyakan, bagaimana dengan bersalaman yang dilakukan usai shalat? Menurut Imam Nawawi, salaman usai shalat adalah bid’ah mubahah dengan rincian hukum sebagai berikut: Jika dua orang yang bersalaman sudah bertemu sebelum shalat maka hukum bersalamannya mubah saja, dianjurkan saja, namun jika keduanya berlum bertemu sebelum shalat berjamaah hukum bersalamannya menjadi sunnah, sangat dianjurkan. (Dalam Fatâwî al-Imâm an-Nawâwî)

Bahkan sebagian ulama mengatakan, orang yang sholat itu sama saja dengan orang yang ghaib alias tidak ada di tempat karena bepergian atau lainnya. Setelah sholat, seakan-akan dia baru datang dan bertemu dengan saudaranya. Maka ketika itu dianjurkan untuk berjabat tangan. Keterangan ini diperoleh dari kita Bughyatul Muytarsyidîn.

Jadi bisa disimpulkan, hukum bersalaman usai shalat adalah mubah atau boleh, bahkan menjadi sunnah jika sebelum shalat kedua orang yang bersalaman belum bertemu.


Read more

Gerhana Matahari ? Sebaiknya Lakukan Sholat Gerhana !!


Sebagian orang menganggap terjadinya gerhana matahari dan bulan sebagai gejala alam biasa, sebagai peristiwa ilmiah yang bisa dinalar. Gerhana sekedar menjadi tontonan menarik yang bisa disaksikan beramai-ramai bersama keluarga dan handai tolan. Namun bagi yang merasa tunduk kepada keagungan Sang Perncipta, Allah SWT, gerhana adalah peristiwa penting yang secara gamblang menunjukkan bahwa ada kekuatan Yang Maha Agung di luar batas kemampuan manusia; manusia yang paling merasa faham ilmu alam sekalipun. Mereka yang merasa rendah di hadapan Sang Pencipta akan menadahkan muka, menghadap Allah, mengerjakan shalat secara berjamaah.

Sayyid atuna A’isyah ra bercerita: Gerhana matahari pernah terjadi di masa Rasululloh SAW kemudian beliau sholat bersama para sahabat. Beliau pun berdiri dengan lama, ruku’ dengan lama, berdiri lagi dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu ruku’ dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu mengangkat kepala dan bersujud, dan melakukan sholat yang terakhir seperti itu, kemudian selesai dan matahari pun sudah muncul. (HR Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Para ulama sepakat bahwa sholat gerhana matahari dan bulan adalah sunnah dan dilakukan secara berjamaah. Berdasarkan redaksi hadits yang pertama di atas penamaan gerhana matahari dan bulan berbeda, sholat khusuf untuk gerhana bulan dan sholat kusuf untuk gerhana matahari.

Berikut Penjelasan yang lebiih detail :

A. Pengertian
Shalat gerhana dalam bahasa arab sering disebut dengan istilah khusuf (الخسوف) dan juga kusuf (الكسوف) sekaligus. Secara bahasa, kedua istilah itu sebenarnya punya makna yang sama. Shalat gerhana matahari dan gerhana bulan sama-sama disebut dengan kusuf dan juga khusuf sekaligus.

Namun masyhur juga di kalangan ulama penggunaan istilah khusuf untuk gerhana bulan dan kusuf untuk gerhana matahari. [1]

1. Kusuf
Kusuf (كسوف)adalah peristiwa dimana sinar matahari menghilang baik sebagian atau total pada siang hari karena terhalang oleh bulan yang melintas antara bumi dan matahari.

2. Khusuf
Khusuf (خسوف) adalah peristiwa dimana cahaya bulan menghilang baik sebagian atau total pada malam hari karena terhalang oleh bayangan bumi karena posisi bulan yang berada di balik bumi dan matahari.

B. Pensyariatan Shalat Gerhana
Shalat gerhana adalah shalat sunnah muakkadah yang ditetapkan dalam syariat Islam sebagaimana para ulama telah menyepakatinya.

1. Al-Quran
Dalilnya adalah firman Allah SWT :

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Dan dari sebagian tanda-tanda-Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganla kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya. (QS. Fushshilat : 37)

Maksud dari perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Yang Menciptakan matahari dan bulan adalah perintah untuk mengerjakan shalat gerhana matahari dan gerhana bulan.

2. As-Sunnah
Selain itu juga Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Selain itu juga ada hadits lainnya :

لَمَّا كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ  نُودِيَ : إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ

Ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah SAW, orang-orang dipanggil shalat dengan lafaz : As-shalatu jamiah". (HR. Bukhari).

Shalat gerhana disyariatkan kepada siapa saja, baik dalam keadaan muqim di negerinya atau dalam keadaan safar, baik untuk laki-laki atau untuk perempuan. Atau diperintahkan kepada orang-orang yang wajib melakukan shalat Jumat.

Namun meski demikian, kedudukan shalat ini tidak sampai kepada derajat wajib, sebab dalam hadits lain disebutkan bahwa tidak ada kewajiban selain shalat 5 waktu semata.

C. Hukum Shalat Gerhana
Para ulama membedakan antara hukum shalat gerhana matahari dan gerhana bulan.

1. Gerhana Matahari
Para ulama umumnya sepakat mengatakan bahwa shalat gerhana matahari hukumnya sunnah muakkadah, kecuali mazbah Al-Hanafiyah yang mengatakan hukumnya wajib.

a. Sunnah Muakkadah

Jumhur ulama yaitu Mazhab Al-Malikiyah, As-Syafi'iyah dan Al-Malikiyah berketetapan bahwa hukum shalat gerhana matahari adalah sunnah muakkad.

b. Wajib
Sedangkan Mazhab Al-Hanafiyah berpendapat bahwa shalat gerhana matahari hukumnya wajib.

2. Gerhana Bulan
Sedangkan dalam hukum shalat gerhana bulan, pendapat para ulama terpecah menjadi tiga macam, antara yang mengatakan hukunya hasanah, mandubah dan sunnah muakkadah.

a. Hasanah
Mazhab Al-Hanafiyah memandang bahwa shalat gerhana bulan hukumnya hasanah.

b. Mandubah
Mazhab Al-Malikiyah berpendapat bahwa hukum shalat gerhana bulan adalah mandubah.

c. Sunnah Muakkadah
Mazhab As-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah berpendapat bahwa hukum shalat gerhana bulan adalah sunnah muakkadah.

D. Pelaksanaan Shalat Gerhana 

1. Berjamaah
Shalat gerhana matahari dan bulan dikerjakan dengan cara berjamaah, sebab dahulu Rasulullah SAW mengerjakannya dengan berjamaah di masjid. Shalat gerhana secara berjamaah dilandasi oleh hadits Aisyah radhiyallahu 'anha.

2. Tanpa Adzan dan Iqamat
Shalat gerhana dilakukan tanpa didahului dengan azan atau iqamat. Yang disunnahkan hanyalah panggilan shalat dengan lafaz "As-Shalatu Jamiah". Dalilnya adalah hadits berikut :

لَمَّا كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ  نُودِيَ : إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ

Ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah SAW, orang-orang dipanggil shalat dengan lafaz : As-shalatu jamiah". (HR. Bukhari).

3. Sirr dan Jahr
Namun shalat ini boleh juga dilakukan dengan sirr (merendahkan suara) maupun dengan jahr (mengeraskannya).

4. Mandi
Juga disunnahkan untuk mandi sunnah sebelum melakukan shalat gerhana, sebab shalat ini disunnahkan untuk dikerjakan dengan berjamaah

5. Khutbah
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum khutbah pada shalat gerhana.

1. Disyariatkan Khutbah
Menurut pendapat As-Syafi'iyah, dalam shalat gerhana disyariatkan untuk disampaikan khutbah di dalamnya. Khutbahnya seperti layaknya khutbah Idul Fithri dan Idul Adha dan juga khutbah Jumat.

Dalilnya adalah hadits Aisyah ra berikut ini :

أَنَّ النَّبِيَّ  لَمَّا فَرَغَ مِنَ الصَّلاَةِ قَامَ وَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَال : إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَل لاَ يُخْسَفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

Dari Aisyah ra berkata,"Sesungguhnya ketika Nabi SAW selesai dari shalatnya, beliau berdiri dan berkhutbah di hadapan manusia dengan memuji Allah, kemudian bersabda, "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah. (HR. Bukhari Muslim)

Dalam khutbah itu Rasulullah SAW menganjurkan untuk bertaubat dari dosa serta untuk mengerjakan kebajikan dengan bersedekah, doa dan istighfar (minta ampun).

2. Tidak Disyariatkan Khutbah
Sedangkan Al-Malikiyah mengatakan bahwa dalam shalat ini disunnahkan untuk diberikan peringatan (al-wa'zh) kepada para jamaah yang hadir setelah shalat, namun bukan berbentuk khutbah formal di mimbar.

Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah juga tidak mengatakan bahwa dalam shalat gerhana ada khutbah, sebab pembicaraan Nabi SAW setelah shalat dianggap oleh mereka sekedar memberikan penjelasan tentang hal itu.

Dasar pendapat mereka adalah sabda Nabi SAW :

فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah. (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadits ini Nabi SAW tidak memerintahkan untuk disampaikannya khutbah secara khusus. Perintah beliau hanya untuk shalat saja tanpa menyebut khutbah.

6. Banyak Berdoa, Dzikir, Takbir dan Sedekah
Disunnahkan apabila datang gerhana untuk memperbanyak doa, dzikir, takbir dan sedekah, selain shalat gerhana itu sendiri.

فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

Apabila kamu menyaksikannya maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah. (HR. Bukhari dan Muslim)

E. Tata Cara Teknis Shalat Gerhana
Ada pun bagaimana bentuk teknis dari shalat gerhana, para ulama menerangkan berdasarkan nash-nash syar'i sebagai berikut :

1. Dua Rakaat

Shalat gerhana dilakukan sebanyak 2 rakaat. Masing-masing rakaat dilakukan dengan 2 kali berdiri, 2 kali membaca qiraah surat Al-Quran, 2 ruku' dan 2 sujud. Dalil yang melandasi hal tersebut adalah :
Dari Abdullah bin Amru berkata,"Tatkala terjadi gerhana matahari pada masa Nabi SAW, orang-orang diserukan untuk shalat "As-shalatu jamiah". Nabi melakukan 2 ruku' dalam satu rakaat kemudian berdiri dan kembali melakukan 2 ruku' untuk rakaat yang kedua. Kemudian matahari kembali nampak. Aisyah ra berkata,"Belum pernah aku sujud dan ruku' yang lebih panjang dari ini. (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Bacaan Al-Quran
Shalat gerhana termasuk jenis shalat sunnah yang panjang dan lama durasinya. Di dalam hadits shahih disebutkan tentang betapa lama dan panjang shalat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW itu :

ابْنُ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - قَال : كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ  فَصَلَّى الرَّسُول  وَالنَّاسُ مَعَهُ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الأْوَّل ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأْوَّل

Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, dia berkata bahwa telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW melakukan shalat bersama-sama dengan orang banyak. Beliau berdiri cukup lama sekira panjang surat Al-Baqarah, kemudian beliau SAW ruku' cukup lama, kemudian bangun cukup lama, namun tidak selama berdirinya yang pertama. Kemudian beliau ruku' lagi dengan cukup lama tetapi tidak selama ruku' yang pertama. (HR. Bukhari dan Muslim)

Lebih utama bila pada rakaat pertama pada berdiri yang pertama setelah Al-Fatihah dibaca surat seperti Al-Baqarah dalam panjangnya.

Sedangkan berdiri yang kedua masih pada rakaat pertama dibaca surat dengan kadar sekitar 200-an ayat, seperti Ali Imran.

Sedangkan pada rakaat kedua pada berdiri yang pertama dibaca surat yang panjangnya sekitar 250-an ayat, seperti An-Nisa. Dan pada berdiri yang kedua dianjurkan membaca ayat yang panjangnya sekitar 150-an ayat seperti Al-Maidah.

3. Memperlama Ruku' dan Sujud
Disunnahkan untuk memanjangkan ruku' dan sujud dengan bertasbih kepada Allah SWT, baik pada 2 ruku' dan sujud rakaat pertama maupun pada 2 ruku' dan sujud pada rakaat kedua.

Yang dimaksud dengan panjang disini memang sangat panjang, sebab bila dikadarkan dengan ukuran bacaan ayat Al-Quran, bisa dibandingkan dengan membaca 100, 80, 70 dan 50 ayat surat Al-Baqarah.

Panjang ruku' dan sujud pertama pada rakaat pertama seputar 100 ayat surat Al-Baqarah, pada ruku' dan sujud kedua dari rakaat pertama seputar 80 ayat surat Al-Baqarah. Dan seputar 70 ayat untuk rukuk dan sujud pertama dari rakaat kedua. Dan sujud dan rukuk terakhir sekadar 50 ayat.

Dalilnya adalah hadits shahih yang keshahihannya telah disepakati oleh para ulama hadits.

كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ  فَصَلَّى الرَّسُول  وَالنَّاسُ مَعَهُ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الأْوَّل ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأْوَّل

Dari Ibnu Abbas ra berkata,"Terjadi gerhana matahari dan Rasulullah SAW melakukan shalat gerhana. Beliau beridri sangat panjang sekira membaca surat Al-Baqarah. Kemudian beliau ruku' sangat panjang lalu berdiri lagi dengan sangat panjang namun sedikit lebih pendek dari yang pertama. Lalu ruku' lagi tapi sedikit lebih pendek dari ruku' yang pertama. Kemudian beliau sujud. Lalu beliau berdiri lagi dengan sangat panjang namun sidikit lebih pendek dari yang pertama, kemudian ruku' panjang namun sedikit lebih pendek dari sebelumnya.(HR. Bukhari dan Muslim).
Read more

Monday, 15 February 2016

Lihatlah Perbandingan Turki Era Sekuler dengan Sekarang !!


Foto 1967: Wajah sekuler Turki yang melarang jilbab

Dalam perayaan Hari Republik Turki (Republic Day) 29 Oktober 2014, para pelajar dan mahasiswi Turki berjilbab untuk pertama kalinya diperkenankan tampil dalam upacara Hari Republik Turki.

Ini sekaligus membuktikan kata-kata yang pernah disampaikan (alm) Necmettin Erbakan (Ketua Partai Rafah, murobbinya Erdogan) yang mengatakan "Bir gün gelecek rektörler türbana selam duracak.." ("Suatu hari, pemimpin akan berdiri memberi hormat pada mereka yang berjilbab").

Dan perhatikan foto diatas... Inspektur Upacara memberi hormat pada barisan pelajar/mahasiswi berjilbab pada parade perayaan Hari Republik Turki... Hal yang dulu (sebelum era Erdogan) diharamkan.
Read more

Sunday, 10 January 2016

Syekh Madura, Ulama Nusantara Pertama yang Mengajarkan Al Qur’an di Afrika Selatan


KETUA Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra mengaku tertegun melihat perjuangan ulama dan umat Islam pada masa penjajahan.

“Betapa kuat perjuangan mereka melawan penjajahan, ingin sekali agar negeri ini merdeka, berdaulat atas nama Islam dengan ragam bangsa yang saat itu bermacam-macam, kerajaan dan kesultanan,” ujarnya dalam Refleksi Perjalanan Kaum Muslimin di Indonesia di gedung DPP PBB, Jakarta Selatan, Sabtu (9/1/2016).

Salah satu yang menginspirasinya adalah Syekh Abdurrahman atau dikenal Syekh Madura. Yusril mengunjungi makam pejuang asal Bangkalan tersebut di Tanjung Harapan, Capetown, Afrika Selatan, tepatnya di Pulau Robin.

“Saya datang ke dua kali ke tempat itu. Karena pertama kali saya membaca buku Nelson Mandela selepas ia keluar dari penjara,” cerita Yusril.

Pertama kali Nelson Mandela keluar penjara di Robin Island, lanjutnya, ia berjalan keluar. Di depan pintu gerbang itu ada sebuah makam yang orang Afrika menyebutnya The Kramat.

Sambil menunjuk makam tersebut, ungkap Yusril, Mandela mengatakan, “Apalah artinya saya 27 tahun ditahan di pulau ini bila dibandingkan orang ini. Saya tidak tahu siapa orang ini, mungkin ia adalah pahlawan dan pejuang di negaranya. Ia ditangkap dan dipenjarakan dan mati di pulau ini.”

Di pulau itu ada delapan makam. “Yang satu sudah dibangun, sekarang bagus jadi masjid kecil. Orang berziarah, membaca yasin, tahlil dan sebagainya,” tutur Yusril kemudian.

Pakar hukum tatanegara itu mengatakan ada prasasti di makam tersebut. Prasasti tersebut berisi beberapa tulisan, dirinya sempat mengabadikan tulisan dalam prasasti itu.

Berikut yang tertulis sebagaimana dibacakan Yusril:

The Prince of Madura, Syekh Abdurrahman Mothura, was verdict to the Island in 1742, with seven of his follower after being captured in stright of Madura in Indonesia.

For the existing that rule, he died  on the island in 1754. It is belive that his body was puried here the side by The Kramat was build in 1969.

Dimakam itu dikatakan, “The Sayyid of Madura. The first man who reading the holy quran in South Africa.”

Karena penasaran, mantan Menteri Sektetaris Negara ini menelusur lebih jauh tentang Syekh Abdurrahman. Yusril menemukan bahwa ia adalah Cakraningrat IV yang beperang bersama Pangeran Trunojoyo dan tertangkap oleh Belanda di selat Madura. Kemudian dibuang ke Afrika Selatan dan dipenjarakan disana.

Oleh masyarakat di sana, Syekh Abdurrahman dijuluki orang pertama yang membaca Alquran di Afrika Selatan.

Selain makam Syekh Abdurrahman, Yusril mengatakan ada makam lainnya yang oleh warga setempat dijuluki “The Hero of Batam.” Berbaring di situ adalah Syekh Yusuf al-Makassari yang lebih dulu diberi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto.
Read more

Di Akhir Zaman, Kesaksian yang Benar Akan Disembunyikan

DUNIA ini semakin tua, dan mungkin waktunya sudah tak lagi lama untuk bertahan. Orang-orang di dalamnya sudah memainkan peran, sebagaimana apa yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW di masa lalu. Di mana tanda demi tanda kedatangan akhir zaman ini semakin nampak jelas terlihat. Salah satunya ialah adanya kesaksian yang benar disembunyikan.



Allah memerintahkan setiap muslim untuk menolong saudaranya, baik ketika saudaranya ini dalam keadaan menzalimi maupun terzalimi. Ia harus menghentikan pelaku zalim dari kezalimannya dan berusaha semampunya untuk mengembalikan hak saudaranya yang terzalimi.

Allah juga mengharamkan perbuatan menyembunyikan kebenaran, sebagaimana firman-Nya, “Dan janganlah kalian (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan baragsiapa menyembunyikannya, maka sesunguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya,” (QS. Al-Baqarah: 283).

Pada akhir zaman, orang akan saling merampas hak satu sama lain. Sedangkan mereka yang mengetahui kebenaran hanya diam dan tidak mau menyampaikannya. Mereka tak mau berbicara kebenaran, padahal mampu mengungkapkannya. Mereka lebih mementingkan kepentingan pribadi masing-masing daripada harus mengungkapkan kebenaran.

Fenomena ini termasuk salah satu tanda hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya menjelang kedatangan hari kiamat nanti, akan muncul tanda-tanda: pengucapan salam kepada orang tertentu, maraknya perniagaan, bahkan seorang istri sampai membantu suaminya dalam berniaga, terputusnya tali silaturahmi, kesaksian palsu merajalela, kesaksian yang benar disembunyikan, dan menyebarkan buah pena (tulisan)
Read more

Friday, 3 April 2015

Dituduh Lakukan Penyerangan, 5 Warga Yerusalem Ditahan Israel



PENGADILAN Israel dikabarkan telah menjatuhkan hukuman terhadap lima warga Palestina untuk tahanan rumah dan melarang mereka memasuki Masjid Aqsa selama satu bulan.
Awal pekan ini, tentara Israel meluncurkan kampanye serangan di lingkungan Jerusalem, kata sumber-sumber lokal kepada PIC pada hari Jumat (3/4/2015).
Dalam kapanye ini dilaporkan adanya penangkapan 40 warga setempat, dan hanya beberapa dari mereka yang diadili.
Polisi Israel menuduh lima dari mereka telah melakukan penyerangan terhadap polisi Israel dan menembakkan kembang api pada mereka.
Israel telah meningkatkan kampanye penangkapan sewenang-wenang terhadap warga Palestina di Yerusalem timur dengan munculnya liburan Paskah Yahudi untuk membuka jalan bagi pemukim untuk memasuki kawasan Masjid al-Aqsa
Read more

Menikah Beda Agama, Pintu Kemurtadan



Berkaitan dengan pernikahan beda agama ini Allah SAW berfirman : “Janganlah kalian menikahi para wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak wanita Mukmin lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hati kalian. Jangan pula kalian menikahi kaum musyrik (dengan para wanita Mukmin) sebelum mereka beriman.sesungguhnya budak Mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hati kalian. Mereka mengajak keneraka, sedangkan Allah mengajak ke surge dan ampunan dengan izin-Nya…” (TQS al-Baqarah[2]:221)
Jelas, bahwa Allah SWT mengharamkan seorang Mukmin menikahi wanita musyrik maupun sebaliknya. Bahkan dikatakan bahwa budak Mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hati kalian.
Pernikahan didalam Islam adalah salah satu cara seorang muslim agar dapat memelihara keturunan, bahkan banyak yang mengganggap dengan menikah berarti telah menggenapkan setengah agamanya.
Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Maka solusi untuk menuntaskan permasalahan saat ini adalah dengan menerapkan aturan
Islam yang kaffah dalam naungan Khilafah, agar semua masalah yang dihadapi umat saat ini segera selesai dengan izin dan pertolongan Allah SWT. Wallahu a’lam bi ash-shawab
Read more